Tampilkan postingan dengan label People. Tampilkan semua postingan
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng, sama aja kayak anak TK
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng & dapet nilai bagus, sama aja kayak anak SD
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng, dapet nilai bagus, & paham materi kuliah, sama aja kayak anak SMP
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng, dapet nilai bagus, paham materi kuliah, & dapet skill diluar materi kuliah, sama aja kayak anak SMA
Kuliah, kalo buat seneng-seneng, dapet nilai bagus, paham materi kuliah, dapet skill diluar materi kuliah, tapi juga berkontribusi positif untuk kemajuan bangsa Indonesia, minimal dalam lingkup kampus dimana kamu berada, itu baru dinamakan "kuliah"
Masih maukah kita menjadi anak TK, SD, SMP, atau SMA? Sesungguhnya kita telah melampaui masa-masa itu, kawan. Alangkah ruginya kalau kita ulangi lagi.
Selamat berkarya dan berkontribusi, kawan :)
Ratri Avisa
Namun permasalahan belum berhenti sampai disini.
Diperlukan penataan ulang (re-design) area utara RS Dr. Sardjito agar
lahan yang digunakan lebih efektif dan mampu menampung PKL yang sebelumnya
berada di sepanjang jalan Kesehatan. Setelah jalan Kesehatan steril dari PKL,
selanjutnya dilakukan re-design
kawasan pedestrian. Design dibuat nyaman untuk dilewati oleh pejalan kaki
sehingga dapat menarik minat masyarakat untuk berjalan kaki, minimal masyarakat
di area tersebut.
Pernahkah kalian menjadi orang lain, atau seperti orang lain atau ingin menjadi seperti orang lain atau dipaksa menjadi orang lain? Mungkin pernah, tapi sebelum kesana mari kita bahas hal tersebut berdasarkan cerita fiktif yang terjadi didunia nyata(?).
Sudahkah Kau Sampai Tujuan?
Posted by : Unknown ,on :1/23/2014,
Saved under :
Inspiratif,
LifeStyle,
People,
Puisi,
Renungan
Pagi ini terasa sepi
Tak terlihat bayangmu menyapa mimpi
Bukan maksudku mengharap kau disini
Namun memang, hanya kamu yang sanggup redakan gundah di hati
Tak kuasa aku berharap, lalu tak mendapat sekedar jawab
Ingin kuteriak AAAAAARRRGGHHH!!!
Apakah hadirku sekedar SAMPAH??!!
Berbagai gundah tak terjawab
Bergerak ku pelan agar tak jatuh terjerembap
Kurindu dan selalu merindu, satu yang kuingin slalu
Hadirmu, ya kamu!!
Berjalan di sisiku
Melewati hari, menantang mimpi
Sampai asaku tak kuasa ingin berlari
Hei kawan, sudahkah kau sampai tujuan?
Tlah kita tinggalkan belenggu di belakang
Untuk berlari menerjang alang-alang
Menyibak belukar, singkirkan duri
Betapa berharganya perjalanan ini
Ya, bersamamu, hanya bersamamu kawan
Sudahkah kau sampai tujuan?
Merintih ku menangis menggapai bayang
Kukejar jejakmu menghilang di awan
HEI TUNGGU!! asaku menyeru
JANGAN TINGGALKAN AKU!! ragaku menderu
Kawan, sudahkah kau sampai tujuan?
Pernahkah kau teringat, kita mengejar tujuan yang sama
Lalu mengapa kau berlari mendahului kesana?
Kau tahu aku tak sekuat dan setangguh dirimu
Lalu mengapa kau meninggalkan aku?
Merintih ku menangis menggapai dirimu
Jejakmu hilang, terhapus debu
Sudahkah kau sampai tujuan?
0 comments / Continue reading →
Bacalah Ini, Wahai Mahasiswa, Jika Kau Mengaku "KULIAH" :)
Posted by : Unknown ,on :,
Saved under :
Curhat,
Inspiratif,
Opini,
People,
Renungan
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng & dapet nilai bagus, sama aja kayak anak SD
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng, dapet nilai bagus, & paham materi kuliah, sama aja kayak anak SMP
Kuliah, kalo cuma buat seneng-seneng, dapet nilai bagus, paham materi kuliah, & dapet skill diluar materi kuliah, sama aja kayak anak SMA
Kuliah, kalo buat seneng-seneng, dapet nilai bagus, paham materi kuliah, dapet skill diluar materi kuliah, tapi juga berkontribusi positif untuk kemajuan bangsa Indonesia, minimal dalam lingkup kampus dimana kamu berada, itu baru dinamakan "kuliah"
Masih maukah kita menjadi anak TK, SD, SMP, atau SMA? Sesungguhnya kita telah melampaui masa-masa itu, kawan. Alangkah ruginya kalau kita ulangi lagi.
Selamat berkarya dan berkontribusi, kawan :)
Ratri Avisa
0 comments / Continue reading →
Jalur Pedestrian (Bukan) untuk Pejalan Kaki
Ratri Avisa Melliferina
3 Oktober 2012
Pedestrian
berasal dari kata pedos (bahasa Yunani) yang berarti kaki sehingga
pedestrian dapat diartikan sebagai pejalan kaki (KBBI) atau orang yang
berjalan kaki. Dalam dunia
arsitektur, jalur pedestrian berarti jalur yang dikhususkan untuk
pejalan kaki,
biasanya terdapat pada pinggir jalan, sarana umum, tempat rekreasi, dan
tempat-tempat lain yang membutuhkan jalur sirkulasi bagi pejalan kaki.
Jalur pedestrian secara umum terdapat di pinggir jalan raya, sebagai jalur sirkulasi
utama sebuah daerah. Merujuk pada fungsinya, jalur pedestrian seharusnya dapat mengakomodasi
pejalan kaki. Namun nampaknya fungsi ini telah terdistorsi oleh
kepentingan-kepentingan lain. Pada umumnya di beberapa tempat di Yogyakarta
khususnya, jalur pedestrian digunakan tidak sesuai fungsinya. pada
survey yang dilaksanakan oleh beberapa mahasiswa Arsitektur UGM untuk mata
kuliah Teknik Survey Perilaku Manusia dan Lingkungan, sampel jalan yang
disurvey menunjukkan indikasi tersebut.
Jalan yang disurvey adalah jalan Kesehatan (sebelah timur
Fakultas Teknik UGM). Hasil survey menunjukkan terdapat banyak titik jalur pedestrian
yang sudah disalahgunakan fungsinya. Jalur pedestrian yang notabene tempat
untuk pejalan kaki, digunakan sebagai area parkir, PKL, dan fungsi-fungsi lain
yang tidak semestinya.
Beberapa
hasil survey di jalan Kesehatan :
Kondisi jalur pedestrian seperti di atas menyebabkan orang tidak ingin berjalan kaki dan lebih memilih menggunakan kendaraan
pribadi. Padahal, jumlah kendaraan bermotor yang melewati jalan Kesehatan
sangat tinggi traffic-nya pada
saat-saat sibuk, sehingga kemacetan pun tidak dapat dihindari.
Jalan Kesehatan yang merupakan jalan pengalihan dari jalan-jalan
di dalam UGM yang sudah tidak boleh dilewati kendaraan, tidak semestinya minim
perhatian seperti itu. Apalagi di jalan Kesehatan terdapat sebuah rumah sakit
yaitu Rumah Sakit Dr. Sardjito, dimana harus diperhatikan tatanan akustiknya
agar tidak terjadi kebisingan yang mengganggu pasien rumah sakit. Akan tetapi,
kondisi jalan Kesehatan sekarang ini sudah sangat ramai sehingga dapat
mengganggu aktivitas rumah sakit.
Solusi untuk permasalahan yang ada pada jalan Kesehatan
ini tidak hanya terdapat pada design kawasannya, namun juga kesadaran para
pengguna jalan. Masalah utama yang perlu diperbaiki adalah masalah PKL yang
memenuhi jalur pedestrian dan bahu jalan serta kurangnya lahan parkir di area
rumah sakit. Untuk
mengatasinya, yang pertama diperlukan relokasi untuk memindahkan PKL yang
berada di jalur pedestrian jalan Kesehatan ke area yang telah disediakan oleh rumah
sakit, yaitu di sebelah utara Rumah Sakit Dr. Sardjito. Saat
ini, area tersebut selain untuk menampung PKL, juga digunakan sebagai lahan
parkir. Sayangnya, lahan parkir itu tidak hanya digunakan oleh pengunjung RS
Dr. Sardjito, namun digunakan pula oleh masyarakat umum terutama mahasiswa yang
tidak diperbolehkan membawa kendaraan ke dalam area kampus. Untuk itu,
diperlukan aturan dan sistem tegas yang mengkhususkan area di utara RS Dr.
Sardjito untuk pengunjung RS Dr. Sardjito saja.
0 comments / Continue reading →
Adu Otot di Angkot
Heuheu.. orang yang tadinya kalem bisa jadi meledak-ledak kalo mulai
diajak ngobrol soal permasalahan transportasi, jangan jauh-jauh
kemasalah macet atau apapun yang lebih besar, tengok saja salah satu hal
yang sering kita alami sehari-hari seperti macet kecil pada titik-titik
tertentu seperti diterminal, pasar atau stasiun kereta api, nah
kebetulan setiap hari saya melewati titik-titik tersebut didaerah Bogor,
sebut saja stasiun Bogor. Bagi orang Bogor atau orang luar Bogor yang
kebetulan lewat daerah situ pasti tau betapa sulitnya untuk melewati
daerah tersebut, apalagi semenjak adanya renovasi stasiun yang membuat
para pengguna jasa KRL masuk dan keluar stasiun di 2 titik utama, yang
membuat orang-orang ramai dititik tersebut. Seperti kata pepatah, ada
gula ada semut, berkumpulnya orang-orang di titik tersebut membuat
beberapa pihak juga ikut berkumpul, seperti pedagang kaki lima serta
angkutan umum yang mencari penumpang atau harus menurunkan penumpang
dititik tersebut. Hal ini tentu saja membuat titik kemacetan baru, untuk
melewati jalur depan stasiun dulu mungkin hanya butuh 1 atau 2 menit,
namun sekarang tak jarang kita harus berlama-lama dalam panasnya area
jembatan merah sampai 15 menit. Kadang tidak jarang ada insiden-insiden
yang tidak perlu antar pengguna jalan, seperti saling bentak, salih
senggol, adu kencang suara klakson atau bahkan saling memecahkan kaca
spion, yang menjadi target biasanya para pengemudi angkot yang dianggap
biang kerok atas kemacetan tersebut, saya sendiri pengguna angkutan
umum, dan memang sangat kesal apabila angkutan umum yang saya tumpangi
harus diam berlama-lama menunggu penumpang.
Lalu siapa yang salah? Jika kita mencoba menjawab pertanyaan tersebut,
mungkin hanya akan menjadi ajang adu emosi lainnya, entah itu angkutan
umum, pedagang kaki lima, pengguna kendaraan pribadi, pengguna KRL atau
bahkan orang-orang yang hanya nongkrong "ngadem" disana punya haknya
masing-masing, yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar perbuatan
kita tidak merenggut hak-hak orang lain. Tentu,,, kita sebagai warga
biasa bisa berbuat lebih bijak, lebih sopan, tertib dan teratur, namun
karena yang kita hadapi adalah sistem dan fasilitas, tentunya
pemerintahlah yang mempunya kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini
secara tuntas. Bagaimana ? ya sebut saja dengan melakukan penataan
tempat untuk berhentinya angkutan umum yang lebih baik sehingga mereka
tak berhenti ditengah jalan lagi, angkutan umum punya tempat khusus
untuk menaikan atau menurunkan penumpangnya, para penumpang juga punya
lahan khusus untuk menunggu angkutan umum, sebutlah tempat dagang untuk
pedagang kaki lima yang lebih teratur dan tidak mengganggu pengguna
jalan, sehingga setiap orang punya tempatnya masing-masing. Serta yang
paling penting adalah pemeliharaan, pengawasan dan pemberian sanksi yang
tegas dan berkelanjutan, karena yang menjadi penyakit semerawutnya
aturan yang dibuat di Indonesia biasanya hukum tersebut hanya semangat
diterapkan dibulan-bulan pertama saja, untuk selanjutnya ya
perlahan-lahan tergerus rasa malas dari aparat penegak hukum. Jadi
kesimpulannya adalah bahwa untuk menyelesaikan masalah yang menyangkut
sistem sepert ini adalah perlunya kesadaran dan dukungan dari semua
pihak untuk mewujudkan masyarakat yang tertib dan teratur.
0 comments / Continue reading →
Modern Itu?
Hmm.. sebenarnya apa yang akan saya tulis sama sekali tidak ada
hubungannnya dengan sesuatu yang modern, kenapa? Tentu saja karena saya
tak punya bahan untuk menulis hal itu :'D *plak
Hal yang ingin saya tulis sebenarnya adalah beberapa curhatan dari teman
saya yang mempunyai sedikit masalah dengan strata sosial. Jadi begini
ceritanya, teman saya ini adalah seseorang yang perawakannya terlihat
cukup dewasa (tua) diumurnya yang memang sudah tidak belia lagi, beliau
ini (lol) masih mengenyam bangku kuliah (makan bangku kuliah) disalah
satu perguruan tinggi swasta di tangerang (nama kota disamarkan *plak),
pada semester 3, sesuai kebijakan dari universitas tempat ia menuntut
ilmu, pihak universitas mewajibkan para mahasiswanya mencari kerja atau
melakukan sesuatu yang menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi,
cerita demi cerita, karena teman saya yang satu ini senang dan lumayan
jago dalam hal digital design, ia melamar kesebuah perusahaan yang
memproduksi tas sampai akhirnya tanpa ada yang menyangka dan menduga :'D
ia diterima bekerja disana sebagai desaigner tas, begitu menurut yang
saya dengar. Seperti kita tahu, dunia kerja itu bisa menjadi apa saja,
jika beruntung kita akan mendapatkan posisi yang nyaman, gaji yang
sepadan, rekan kerja yang berkawan dan atasan yang rupawan. Namun..
tidak demikian bagi teman saya yang satu ini, kenapa ? sebelum kesana
kita kesampingkan masalah gaji dan jabatan yang ia dapat, saya akan
menggosipkan beliau dalam hal interaksinya dengan rekan kerja
sehari-hari, yang saya dengar dari curhatan beliau ini, rekan kerja
disana tidaklah sebaik yang diharapkan, kesenjangan sosial antar pegawai
sangat jelas terlihat, misal.. saat makan siang, orang-orang dengan
jawaban tertentu makan ditempat tertentu dan orang dengan jabatan
tertentu lainnya makan ditempat tertentu lainnya (?). Ditambah lagi,
beliau merupakan salah satu pekerja yang termuda dengan umurnya yang
tua, jadi dapat keadaan diatas rasanya sangat canggung bagi beliau untuk
beliau bergaul dengan lingkungan kerjanya. Dapat dibayangkan memang
bagaimana rasanya berada ditempat yang seperti itu, ya kan.. ? "Sebagian
mengatakan bahwa itu adalah bagian dari sesuatu yang modern, dan
sesuatu yang modern itu selalu mengandung hal-hal yang diskriminatif",
ujar beliau. Beliau melanjutkan kata-katanya, "Yang gw suka bukanlah
orang-orang yang modern, namun orang-orang yang berada dipertengahan
yaitu orang-orang yang baru saja melewati fase Jadul dan menuju fase
manusia yang modern, namun hal ini akan terus berulang, dimasa depan,
manusia yang meninggalkan fase modern saat ini akan disebut manusia dari
jaman jadul dan begitu selanjutnya, hal ini hanya akan menjadi siklus
secara terus menerus".
Tulisan saya yang satu ini bener-benar gak ada artinya T_T *plak
1 comments / Continue reading →
Nyebrang Jalan
Salah satu hal yang lumayan greget dan sering saya alami adalah hal
kecil yang mungkin saja dan memang benar berdampak besar bagi kehidupan
seseorang, suatu hal yang menjadi pilihan antara hidup dan mati, haha
*plak. Menyebrang jalan.... ya menyebrang jalan mungkin sudah menjadi
hal lumrah atau sering kita lakukan setiap hari, dilakukan oleh
orang-orang yang dekat dengan kita, dilakukan oleh orang yang tidak kita
kenal bahkan dilakukan oleh orang diseluruh dunia, menyebrang jalan
sudah menjadi bagian penting dari kehidupan kita, karena menyebrang
jalan sadar atau tidak sadar menjadi salah satu hal yang menentukan
kelangsungan hidup *plak. Jika kita melihat aktivitas menyebrang jalan
seperti yang dilakukan orang-orang jepang di shibuya cross tentu sangat
terjamin keamanannya. Namun di Indonesia sendiri menyebrang jalan sudah
masuk kedalam tingkat yang membahayakan (menurut saya lol), saya sering
mengalami kesulitan saat menyebrang jalan, takut, was was, karena
walaupun saya berada dalam zebra cross yang merupakan tempat selayaknya
untuk menyebrang jalan, kenyataannya tidak sedikit dari pengendara yang
tetap memacu kecepatannya dengan tinggi, hal ini tentu saja
membahayakan, bukan hanya bagi penyebrang jalan, hal ini juga berbahaya
bagi pengendara. Nah.. untuk mewujudkan menyebrang jalan yang nyaman dan
aman, yang pertama harus ada adalah, tempat menyebrang yang strategis,
karena banyak sekali jalan yang walau didaerah ramai kadang sama sekali
tidak ada tempat untuk menyebrang jalan, dan ada juga tempat
penyebrangan jalan yang dekat dengan tikungan jalan, beuh.... Kemudian
hal yang selanjutnya tentu kesadaran bagi penyebrang jalan dan
pengendara, dimana pengendara dan penyebrang jalan dituntut untuk lebih
berhati-hati. Sehingga nantinya menyebrang jalan tidak lagi menjadi
persoalan hidup dan mati.
0 comments / Continue reading →
The Mirror
Posted by : Unknown ,on :,
Saved under :
People
Pernahkah kalian menjadi orang lain, atau seperti orang lain atau ingin menjadi seperti orang lain atau dipaksa menjadi orang lain? Mungkin pernah, tapi sebelum kesana mari kita bahas hal tersebut berdasarkan cerita fiktif yang terjadi didunia nyata(?).
Di film-film tertentu yang mengisahkan sekelompok orang yang terjebak
dalam kesulitan yang sama, misalnya dalam sebuah kecelakaan pesawat yang
menyebabkan mereka terdampar disebuah pulau yang terpencil atau
sekelompok orang yang terjabak didalam sebuah banker perlindungan dari
perang nuklir yang terjadi diluar, intinya film-film tersebut menegaskan
bahwa alaur ceritanya mengharuskan sekelompok orang tersebut berada
dalam satu tempat atau ruangan dan terisolasi dalam waktu yang cukup
lama titik *emosi. Kisah mereka biasanya diawali dengan kepedulian yang
besar pada sesama korban atau orang-orang yang bernasib sama, mereka
saling melindungi pada awalnya, namun beberapa hari kemudian mulai
terlihat orang-orang dengan watak tertentu, ada yang mempunyai watak
pemimpin, ada yang egois, ada yang selalu mengomel dan menyalahkan
keadaan, ada yang sok ingin jadi pemimpin intinya watak-watak ini dibuat
untuk membuat konflik dan memperkuat cerita. Pada awalnya, mereka
memilih pemimpin dengan suka rela, namun waktu terus berlalu dan keadaan
tak kunjung membaik, akhirnya mereka saling menyalahkan dan pecahlah
ikatan antara kelompok kecil tersebut, pembagian jatah makanan yang
tidak seimbang juga stok makanan yang terus menipis biasanya membuat
orang-orang tersebut menjadi "gila", dan perlahan-lahan mereka menjadi
orang yang lain dari dirinya sebelumnya, menjadi lebih liar dan cerita
demi cerita hingga akhirnya tersisa satu orang yang selamat, yang ini
biasanya seorang perempuan, lihatkan... laki-laki memang tidak
ditakdirkan bahagia ToT.
Nah.. dari film-film mengerikan serperti itupun kita bisa belajar bahwa
keadaan memang kadang membuat atau bahkan menuntut kita menjadi sesuatu
yang lain, namun menjadi sesuatu yang lain tidaklah selalu buruk, pada
kenyataannya malah ada kalanya kita harus menjadi sesuatu yang lain demi
kebaikan bersama, misal.. kita harus menjadi seseorang yang serius
padahal kita hobi sekali bercanda, atau kita diharuskan menjadi
laki-laki yang gagah perkasa saat menjadi komandan upacara saat SMA
padahal sehari-hari kita memiliki tubuh yang lemah gemulai *plak
Ya.. pada intinya menjadi sesuatu yang lain itu tergantung menjadi apa
(jalan tengah hehe), jika baik maka baik jika buruk maka buruk, namun
menjadi sesuatu yang lain juga membuat kita belajar menjadi sesuatu yang
lebih baik.
0 comments / Continue reading →


